Monday, June 05, 2017

startup dan segala yang katanya kekinian

saya itu pernah kerja di startup. iya dong, kalo kalian followers lama twitter saya atau pembaca setia blog ini pasti tau deh. saya udah ngga' di startup lagi sekarang soalnya sudah ngga' di Surabaya lagi hihihi. eh sekarang lagi rame kan ya soal gerakan sekian ribu startup? haha, i just want to share my point of view. well, here we go..

setiap kali saya denger soal startup, biasanya ngga' jauh jauh dari anak muda, beda dan berkarya. pertanyaan yang sering kali diajukan kepada mereka yang masih muda dan bersemangat itu adalah, "what's the problem you will solved?" karena ide startup sering kali muncul dari permasalahkan yang ada kemudian founder startup menemukan solusi berbiaya. sebutlah go go, berangkat dari kemacetan jakarta muncul helm ijo ijo. 

melihat kesuksesan go go, banyak anak muda yang akhirnya cari cari masalah kemudian mikir seribu keliling buat cari solusi yang bisa bermanfaat dan bisa dimanfaatin, dengan pertanyaan sakti yang saya bilang tadi. what problem do you solved? disamping tidak lupa juga dengan digadangnya mimpi bekerja ala kantor google : jam kerja fleksibel, ngga' harus ke kantor, bisa kerja di rumah sambil pake piyama. dasarnya kita ini emang suka main muncul lah sebuah konsep bekerja yang serasa bermain. 

anak muda biasanya mikirnya suka ngga' total, juga sering ngga' sabar, berangkat dari konsep setengah jadi kemudian berlomba lomba cari investor buat dapetin seed funding yang mendadak bikin kaya raya. 

wait wait, itu cuma fiksi gais. maap jadi ngelantur. 

sebenarnya dalam membuat startup, pertanyaan pertamanya bukanlah, "what the problem do you solved?" tetapi lebih kepada, "apa sesuatu yang bisa kamu buat (di bidang teknologi) yang itu mampu memberi manfaat buat kamu dan buat orang lain?."   

sesuatu yang mampu memberi manfaat buat kamu. sederhananya kamu bisa hidup dari situ. sesuatu itu bisa ngasi MAKAN kamu. buat apa kamu capek capek ngerjakan sesuatu yang udah makan waktu, tenaga dan biaya (internet) kalo itu ngga' ngasi feed back materi secara real dan consistent? sosial sih sosial ya, cuma biaya operasional siapa yang bayar? kalo cuma bisa ngabisin uang kamu dan ngga' ada hasil, NGGAK USAH BIKIN STARTUP DEK, DAGANG KARDUS MASIH LEBIH LAKU. 

setelah kamu selesai dengan merenungkan sesuatu yang mampu memberi kamu manfaat, kemudian marilah kita berfikir memberi manfaat bagi orang lain. orang lain ini bisa jadi 2 golongan : orang lain yang bekerja untuk kamu (baca : kamu bisa bayar mereka dengan layak sesuatu kemampuan profesional mereka, nggak di bawah UMR tentu saja) dan orang lain yang menggunakan sesuatu yang sudah kamu rumuskan itu. 

kembali kita ambil contoh si go go. pembuat go go sudah merasakan manfaat dari kepemilikan perusahaan transportasi online tersebut. kemudian, banyak orang lain yang bisa hidup dari go go juga, baik dengan menjadi tenaga professional atau dengan menjadi partner go go yang beredar di jalan. dan bagi saya, dan semua orang mager yang ada di negeri ini jelas merasakan manfaat go go! 

see? you must create something cool, stunning and fabulous. but also you but find benefits from it for you, for people to you them work for, and for all people :)

Proyek atau Base Product?

arah bidang usaha itu selalu 2 hal. proyek atau base product. selama ini yang saya perhatikan startup selalu fokus membuat base product. gapapa, yang penting ngasih manfaat. 

kamu harus membuat base product yang memberikan manfaat bagi banyak orang, seperti Indomie atau Paramex obat sakit kepala yang memberi manfaat bagi kita semua. konsep base product sebenarnya seperti Indomie. dimana kamu membuat produk yang dicintai, istimewa dan selalu ada. wahai penggiat startup, DUSTA KALO KALIAN NGGAK PERNAH MAKAN INDOMIE WAKTU BEGADANG. 

kalo mau bikin base product, buatlah seperti produk indomie. sederhana, tapi mengena. produk seperti ini bisa apa saja. aplikasi waktu solat contohnya. 

yang utama itu adalah produk yang kamu jual harus bisa ngasih makan kamu dan kamu bisa hidup dari situ, walaupun tidak dalam waktu dekat. jadi kalo disingkat yang nomor 1 itu adalah produk yang kamu jual (product concept), ke mana/ke siapa harus menjualnya (target market), dan bagaimana cara menjualnya (marketing stategy). sebutlah ini adalah analisa pasar (market analysis). branding dan inovasi  itu semua nomor 2, yang penting demand-nya ada dulu dan gimana cara giring kesana sudah tau. 

kalo saya disuruh bikin beginian sama abah, biasanya saya mulai dulu semua dari product benefits research yang digadang abah saya. saya gali semua manfaat yang bisa dikasih sama itu barang/tempat. kemudian, baru deh saya bikin target market analysis-nya. ini harus bener bener spesifik mulai dari Region/Country, tipe masyarakat  (urban/country), Age, Gender, Education, sampe Class. karena hanya dengan mempelajari product knowledge  dan target market kamu bisa benar benar menemukan cara yang paling ciamik untuk menjual produkmu/make a good marketing strategy.    

buang waktu kalo kamu research soal irrational consumer kalo barang yang kamu jual itu website atau rumah. BOK YAH, NGGAK ADA ORANG YANG KALAP BELI RUMAH. kalo barangmu itu sepatu, baju, atau tas, masih mungkin. karena peluang orang untuk membeli barang tersebut secara imulsif itu masih tinggi. atau barang yang harganya cukup murah, orang masih mungkin untuk membeli secara impulsif contohnya risoles di pasar ramadhan. know your product, it's lead you to do the right research. 

setelah selesai dengan research produkmu, baru deh kamu research soal target market yang kamu tetapkan. menjual produk ke anak SMA tentu beda caranya dengan menjual produk ke anak SD. menjual produk ke mbak mbak eksmud beda caranya dengan jual produk ke ibu ibu yang hobi dasteran dan gosip di tukang sayur. kalo kamu tau mau jual ke siapa, kamu tau juga caranya kaya apa.

jangan lama lama terjebak di ungkapan, "we fall in love with people we can't have" lah ya. 

No comments:

Post a Comment