Thursday, September 08, 2016

Dilema Penerbangan


saya selalu mengalami dilema dalam setiap penerbangan di Indonesia. bukan karena saya ini takut terbang, selalu gugup saat take off atau mabuk udara. tetapi lebih kepada kenyamanan saat terbang dengan habit 90% orang Indonesia yang super kepo. baru saja saya duduk, sudah ditanya, 

"mbak, mau kemana?." 
"Surabaya bu.."
"LAIYA, JAWA-NYA JAWA MANA.."
"saya di Surabaya bu, saya di Kenjeran.."

bukannya saya ini orangnya sok iye, tapi jujur saja dengan perjalanan dari rumah saya di Bontang ke airport di Balikpapan, saya harus menempuh perjalanan darat selama kurang lebih 6 jam dengan kondisi jalan yang sudah mirip seperti mix antara spinning coster dan jet coster dan itu ditempuh dengan kendaraan umum jam 11 malam dan sampai di airport sebelum airport buka itu sudah menjadi alasan saya untuk menjadi sangat bad mood dan tidak suka ditanya tanya saat duduk di seat pesawat. sederhananya, saya butuh tidur dan tidak diganggu. and that questions is very very disturbing.

di lain kesempatan, ketika saya harus mendadak terbang ke Surabaya. hari itu tidak ada ibu ibu kepo yang tanya tanya saya mau kemana dan dari mana rumahnya dimana karena saya duduk bertiga dengan saudara saudara saya. baru saja saya duduk dan hendak memasang seat belt, mendadak sandaran kursi saya sudah seperti drum yang dipake akustik dengan kaki anak kecil sebagai stick-nya. kursi saya ditendang tendang anak kecil dibelakang saya. 

Riffat bilang kalo yang duduk dibelakang saya adalah anak kecil yang kira kira umurnya setara umur anak yang duduk di TK besar, yang waktu itu duduk dipangku kakaknya yang kira kira kelas 2 SD. kedua orang tuanya duduk di 2 kursi di sebelah mereka. 

dan kemudian terdengar suara tangisan bayi bersahut sahutan. gosh, i just want a some sleep !!.

yang saya tau (CMIIW) peraturan penerbangan untuk anak yang masih boleh duduk dipangku adalah berumur kurang dari 2 tahun, dengan tinggi badan maksimal setinggi telinga orang dewasa ketika dia dipangku. tetapi apapun itu pastilah runtuh jika saya dihantamkan dengan perkara ekonomi bahwa uang untuk membeli 1 kursi setara dengan biaya makan satu keluarga.  

kenapa ngga' naik penerbangan full service? toh bisa mengurangi ketidaknyamanan itu. hm, saya bukan orang yang selalu merencanakan penerbangan, sering kali dalam hidup saya, saya harus dihadapkan di keadaan yang mengharuskan saya mendadak terbang. jadi ya saya harus mengambil penerbangan apapun yang tersisa saat itu. lagipula, penerbangan full service tidak banyak jam-nya, sedangkan kepentingan saya di kota tujuan tidak selalu bisa disesuaikan dengan jam penerbangan full service. 

kalau kalian mengalami pengalaman seperti saya, mungkin kalian bisa menerapkan hal hal yang sudah saya terapkan berikut ini. Alhamdulillah di saya berhasil, Gaes. 


get starbucks, a cup of hot coffee can change your mood. 
sesaat setelah bandara buka, saya segera berlari ke gerai kopi ini. berhubung saya udah ngga' boleh lagi beli kopi, jadi saya selalu beli green tea latte, tapi saya minta yang super panas. a cup of starbucks's extra hot green tea latte with less sugar change my mood instantly. if it don't, eat a almond or sausage croissant! 

MINUM TOLAK ANGIN
tolak angin adalah jawaban atas semua persoalan ga enak badan orang Indonesia. saya pertama kali kenalan saya tolak angin waktu temen saya yang dokter ngasih saya satu sachet tolak angin karena hari itu saya kecapean banget. kakak ai bilang, dia selalu minum tolak angin tiap kali habis jaga malam dan kecapean. setelah menempuh perjalanan Bontang-Balikpapan dari jam 11 malam, minum tolak angin adalah jawaban dari segala kecapean. sebagai anak yang dari lahir sudah tercipta berdaya tahan tubuh rendah (baca : gampang sakit) dan veteran jadi member RS gara gara tiap semester opname tipes, tolak angin adalah jawaban atas segala persoalan. 

get some food, hungry changes people
karena lapar bikin orang gampang marah. sekian.


duduk, pake headset, pake sunglasses, tidur.
 sederhananya, orang akan sungkan duluan mau kepo kalo kita udah sok sibuk duluan. 


terakhir : minta pindah duduk
kalau udah bener bener ngga' tahan lagi, kita bisa kok bilang sama pramugari kalo kita ngga' nyaman dan minta dicarikan tempat duduk kosong. jadi ceritanya waktu itu hampir separo perjalanan sandaran kursi saya ditendangin sama dedek yang duduk dibelakang saya, akhirnya saya bilang sama pramugari-nya kalo saya ngga' nyaman dan saya ngga' bisa tidur. kebetulan bangku depan waktu itu pada kosong kosong gitu. akhirnya mbak pramugari bilang kalo saya bisa pindah kesana. akhirnya, saya bisa tidur deh!. happy ending kaaaaaan


kalo kalian, punya pengalaman ngga' enak gimana selama terbang? share dong