Thursday, September 03, 2015

pandangan yang harusnya dibenahi tentang bekerja di gedung tinggi



banyak mitos tentang bekerja di gedung tinggi yang terlanjur mengakar sebagai pandangan masyarakat yang sebetulnya tidak selalu. i mean, pandangan wow itu tidak sepenuhnya benar, setidaknya hal hal ini adalah di antaranya. 


 #1 yang kerja di gedung tinggi itu harus keren, dan profesional. 

profesional itu adalah sebuah keharusan, tidak hanya pekerja yang ada di gedung tinggi tetapi sebenarnya juga untuk semua pekerjaan, untuk semua profesi. profesionalitas itu emang anaknya banyak sih, tepat waktu, bertanggung jawab, tidak melibatkan perasaan apapun dalam pekerjaan dan memberikan hasil terbaik yang kita bisa. kalau harus keren sih sebenernya engga' ya, hanya saja berpakaian rapi dan standar kantor adalah bagian dari profesional itu sendiri. yes, look as a cool one is an impact but not a priority. 

profesional dan keren erat hubungannya dengan sangat paham dengan etika yang ada. pada kenyataannya, pekerja di gedung perkantoran pun manusia yang sifatnya beragam termasuk dalam hal ini. dulu ketika saya masih kecil, ummi sangat concern dengan salah satu etika dasar ini, tidak berbicara di dalam lift ketika kami harus menginap di hotel ketika liburan ataupun dalam perjalanan mudik ke rumah nenek di Banjar, kalimantan selatan. 

saya menurut tanpa bertanya, karena ummi bilang itu adalah etika dasar. ketika saya sering kelupaan dan memulai obrolan dengan riffa dan riffa menanggapi di lift, ummi juga selalu mengingatkan kami berdua untuk tidak berbicara apalagi mengobrol. karena masih kecil (sekitar umur 7 tahun) kami lantas diam tetapi dengan hati yang menyimpan dongkol, karena di mata akal kami yang terbatas ummi menghalangi kami untuk mengobrol seru. 

15 tahun kemudian ketika saya berkantor di gedung tinggi, kini saya paham yang ummi lakukan. 

sering sekali saya ketika di lift bertemu dengan orang yang dengan santai melanjutkan obrolan di lift. terganggu awalnya, cuma masih bisa di terima. kejadian yang saya alami ini, satu lift dengan orang ngobrol ini tidak sekali dua kali, mengingat kantor saya berada di lantai paling atas gedung ini.

sampai akhirnya tadi, ketika saya yang bad mood parah sama kasir Indomaret yang salah hitung belanjaan jajan saya. ketika saya di lift pengguna lift yang sudah ada di dalam mengobrol seru sambil ketawa ketawa di dalam lift. sumpah, sampe kantor saya sama rekan saya mufa, rasanya pengen marah.

bukannya apa apa, cuma untuk orang orang seperti kami yang menjadikan naik lift itu adalah bagian dari keseharian, itu lama lama pusing dengan pergerakan lift. rekan saya ini udah ngomel, "naik lift itu aja tuh udah bikin pusing, apalagi kalo ada orang ngobrol?. kita jadi mual rasanya dan pengen marah."

saya engga' menyalahkan mufa dengan apa yang dia sampaikan karena saya pun mengamininya. dari situlah saya paham dengan sikap ummi saya dulu. ah ternyata saya ini harus banyak belajar. so, tidak semua warga gedung tinggi paham loh soal ini :p


#2 gedung tinggi?. Gudangnya Eksmud !.
 kalau gedung tingginya itu adalah bank dan hanya dipakai untuk bank itu sendiri (bukan dijadikan office building) ya bener emang, gudangnya eksmud, cowok Ganteng dengan kerjaan bagus dan kemeja sesiku waktu beli kopi di Starbucks. tetapi di dalam gedung tinggi itu ada banyak kantor, dari berbagai macam bidang. seperti media, konsultan pendidikan, agent pendidikan, perusahaan web developer dan lain lain. dan.. tidak semua perusahaan itu punya aturan harus look as good as a banker.  perusahaan media dan web developer misalnya, biasanya para pekerjanya itu pakaian nya santai, karena mereka memiliki jam kerja yang suka "berlebih" . memang ada, bagian yang biasa ketemu orang (ini bagian yang sering disebut eksekutif muda) yang emang kerennya bikin  mimisan. cuma ya ga mungkin dong satu perusahaan itu eksmudnya semuanya :D


#3 kalo kerja di gedung tinggi bisa makan di restoran keren, tiap jam makan siang.

beberapa gedung perkantoran memang memiliki jajaran restoran keren di lantai ground-nya, sehingga memancing pandangan bahwa yang ngantor di gedung tersebut makan siangnya tiap hari di restoran restoran itu. kenyataannya?. cuma makanan kantin (atau nama aslinya food court) yang mampu kami beli untuk menu makan siang. memang, kadang kami juga makan di restoran restoran tersebut, cuma ya ngga' bisa tiap hari. gini deh logikanya. kalau sekali makan di bawah itu biaya yang harus di keluarkan adalah 100k sampai 250k, kalau makan di sana tiap hari, mau gaji berapa?. berarti untuk sebulan biaya yang harus dikeluarkan adalah : 250k x 30 hari = 7.500k !!. TUJUH YUTAH MALATUS LIBUH CUMA BUAT MAKAN DOANG MEN. udah gitu ga di reimburse lagi sama kantor. hea..




kira kira, mitos apa lagi ya seputar bekerja di gedung tinggi?.




XOXO,


Fatimah Fauzan

Tuesday, September 01, 2015

Menunggu Lift


hai kamu yang memilih untuk jatuh cinta diam diam, mau sampai kapan berjuang sendirian?.

untuk sebagian masyarakat yang menempati gedung berlantai banyak, sudah menjadi bagian keseharian dengan kotak besi bergerak bernama lift. kotak besi yang membantu membawa kami dari lantai satu ke lantai yang lain. walau pernah di maki oleh seorang pemuda dari pelosok pantai utara bahwa saya ini segitu malesnya naik tangga padahal tujuannya cuma lantai 5, kotak besi ini tetap terdepan di hati saya masalah efisiensi perpindahan lantai di gedung tinggi. 

"nunggu lift tuh udah kaya nunggu jodoh. yang diharepin siapa yang dateng siapa." 

ketika kita menekan tombol lift, memang kita lumayan sering berharap yang datang duluan adalah yang berada di lantai yang lebih dekat dengan kita. bukan lift yang datang dari lantai yang jauh. tetapi yang kadang terjadi adalah justru yang dari lantai yang jauh itu malah dateng duluan sedangkan lift yang berada di lantai yang lebih dekat yang ditunggu tunggu malah ngga' dateng. 

kadang sebagian orang suka menyamakan analogi tersebut dengan konsep jodoh. 

ketika saya selesai solat dzuhur tadi siang, musola gedung kantor saya berada di B2 (basement 2) dan kantor saya berapa di lantai 7. ada dua lift dihadapan saya, yang pertama berasal dari lantai 7 dan yang satunya berasal dari lantai 5. saya berharap bahwa lift yang berada di lantai 5 segera datang, kerena memang letaknya lebih dekat dengan saya, dari pada yang ada di lantai 7. 

tetapi lift lantai 5 berhenti 2 kali : di lantai 3 dan di lantai G dan dua duanya lama. berbeda dengan yang berasal dari lantai 7 yang ketika saya menekan tombol lift dengan konsisten angkanya semakin mengecil, mulai dari angka 7, kemudian 6, 5, 3 (you know why, i think) 2, 1, G, B1 dan lantai saya di B2. 

iya, pada akhirnya yang dekat akan di gantikan oleh yang konsisten. 

dear para pejuang cinta sendirian yang konsisten akan jatuh cinta diam diam.. saya yakin, kalian bisa jatuh cinta diam diam karena bisa dipastikan kalian dekat dengan pujaan hati. tetapi mau sampai kapan?. jangan sampai dia menyerah untuk menunggu sehingga memilih dia yang ngomong duluan. say it, it define that it's true. ketika saya di tanya sama salah satu pengawas saya kenapa saya tidak menanggapi seseorang hebat yang ada di perusahaan kami padahal udah nyata banget kalo yang bersangkutan cinta mati sama saya (versi pengawas saya) saya hanya menjawab dengan, 

"ya kalo dia memang serius dia pasti ngomong, pak. kalo dia ngga' ngomong berarti dia tidak seserius itu. " 

i think banyak perempuan di dunia ini yang berpikir sama seperti saya. jika memang yakin sejalan, perjuangkan. katakan. jika tidak, tinggalkan. simple rules that we forget, and we make it complicated by own self.  


don't want to stuck in a problem by your own. kata guru saya, ragu ragu itu bagian dari ngga' yakin. keraguan itu menyiksa dan tidak akan pernah memberi kepastian. 



dan tidak ada ketetapan itu ga enak. selamat sore.